021 2237 9620 0853 5122 5081
08.00 – 16.30 WIB cs@patendo.com

Merek Yang Tidak Dapat Didaftarkan

ide nama cafe dan artinya

Merek yang tidak dapat didaftarkan dipengaruhi oleh regulasi dalam UU No. 20/2016. Jika Anda tidak memahami syarat dan ketentuan teranyar dalam undang-undang merek tersebut, maka kesalah pahaman akan timbul dan berdampak terhadap produk yang hendak dipasarkan.

Seperti yang telah diketahui sebelumnya, UU No. 15/2001 tentang Merek kini telah diubah menjadi UU No. 20/2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis.

Sayangnya, baru segelintir orang yang mempelajari perubahan dalam pasal maupun ayat peraturan tersebut.

merek yang tidak dapat didaftarkan

 

Membandingkan merek yang tidak dapat didaftarkan di dalam UU No. 15/2001 dengan UU No. 20/2016 bisa membantu Anda mengenali brand yang hendak diajukan.

brand yang tidak dapat didaftarkan

Dalam UU 2016, poin-poin yang memberatkan sebuah merek yang mau didaftarkan di antaranya bertentangan dengan ideologi negara, undang-undang yang berlaku, agama, moralitas, kesusilaan, maupun ketertiban umum.

Sama dengan, berhubungan, atau menyebutkan jasa dan/atau barang yang dimohonkan pihak pendaftar; memiliki unsur yang berpotensi menyesatkan masyarakat terkait asal, jenis, kualitas, ukuran.

Juga tujuan pemakaian, macam jasa dan/atau barang yang dimohonkan pendaftar maupun nama varietas yang dilindungi untuk jasa dan/barang yang sejenis.

Selain itu , mempunyai keterangan yang tidak sama dengan manfaat, kualitas, maupun khasiat dalam jasa dan/atau barang yang diproduksi; tidak mempunyai daya pembeda; merupakan nama dan/atau lambang milik umum.

Sekarang, mari pelajari beberapa kasus sengketa merek yang sempat diperbincangkan khalayak umum. Salah satunya adalah perselisihan merek yang sempat menjerat IKEA yang dibawa hingga tingkat kasasi di Mahkamah Agung.

Pengadilan Niaga mengabulkan gugatan yang dilayangkan oleh PT Ratania Khatulistiwa—sebuah perusahaan asal Surabaya—atas merek IKEA yang dipakai INTER IKEA SYSTEM B. V.

nama cafe yang bagus

Putusan tersebut dikuatkan Mahkamah Agung dengan alasan brand yang tidak digunakan pemilik selama tiga tahun berturut-turut bisa dihilangkan atau dihapus dari Daftar Umum Merek.

Hal ini sesuai dengan Pasal 61 ayat (2) huruf a dalam UU No. 15/2001. Bukti lain yang mengukuhkan keputusan tadi diperoleh dari pemeriksaan merek dagang IKEA di kelas jasa/barang 21 dan 20 terdaftar dengan nama tergugat.

Dan ternyata sudah tidak dipakai selama tiga tahun berturut-turut sejak brand terdaftar.

Di sisi lain, keputusan tersebut sempat diwarnai dissenting opinion dari I Gusti Agung Sumanantha—salah satu anggota hakim—yang menyatakan bahwa brand IKEA milik pihak tergugat adalah merek ternama, jadi tak ada alasan untuk menghapusnya.

merek yang tidak dapat didaftarkan kemenkumham

Namun, hakim mengambil keputusan berdasarkan suara terbanyak dan menolak permohonan kasasi. Kasus lainnya yang berhubungan dengan merek adalah sengketa merek bernama Goodyear.

The Goodyear Tire & Rubber Company atau GTRC melayangkan gugatan pada PT Banteng Pratama Rubber karena memasarkan ban bermerek goodyear.

GTRC menganggap tindakan BPR sebagai pelanggaran, sebab GTRC selaku pemegang brand memiliki nama goodyear yang semestinya dilindungi.

Di lain pihak, tergugat berani menjual produk karena adanya perjanjian lisensi, tetapi masanya sudah habis pada 1993-1994. Pada akhirnya, hakim pun memutuskan bahwa kedua belah pihak telah menyimpangi masa berakhirnya lisensi.

Pemberian royalti jadi salah satu bukti terkuat sekaligus pembeda. Kali ini, keputusan pun sejalan dengan dalil penggugat kalau goodyear menjadi merek ternama. Berbeda dengan kebanyakan kasus terkait kesamaan nama merek dagang.

Bagikan :
There are currently no comments.

For security, use of Google's reCAPTCHA service is required which is subject to the Google Privacy Policy and Terms of Use.

I agree to these terms.