Pelanggaran Hak Merek

Pelanggaran hak merek merupakan kasus yang masih sering terjadi menjadi tanda atas kurangnya kesadaran masyarakat terhadap HAKI. Padahal, merek akan sangat menunjang bisnis seseorang dan digunakan sebagai identitas di pasaran. Jika ada kesamaan antar merek, masyarakat akan dibuat bingung. Lantas sebagian besar orang akan menganggap kalau brand yang lebih pertama muncul sebagai produk asli, padahal anggapan itu tidak sebenarnya benar. Pasalnya, ada beberapa pemilik orisinal merek yang lupa atau tidak sadar akan kebutuhan pendaftaran merek dan mempublikasikannya secara masif.

Pelanggaran Hak Merek usaha

Oknum yang tidak bertanggung jawab lantas mencuri dan bahkan mengajukan pendaftaran. Hal inilah yang acap kali menjadi pemicu pelanggaran hak merek yang prosesnya kadang tidak sebentar. Dalam hal ini, Anda harus mengetahui dulu fungsi merek yang—seperti yang telah disinggung—bertindak sebagai pemberi tahu dan pembanding dengan produk pihak lain. Hal ini berlaku untuk individu atau kelompok. Dengan kata lain, merek atau brand adalah jaminan dari kualitas produk Anda. Lantas, hak merek diperlukan agar merek atau brand mempunyai proteksi secara hukum dan tidak digunakan tanpa izin oleh pihak lain.

Di Indonesia, kasus-kasus yang berkaitan dengan pelanggaran merek umumnya terjadi di bidang industri. Tak sedikit yang berlarut-larut karena kedua belah pihak merasa benar; adapun yang menuai kontroversi hingga menarik atensi masyarakat luas.

Pelanggaran Hak Merek

Mari kita simak contoh pelanggaran hak merek yang terjadi dalam milk bath yang diproduksi Body Shop.

Anda yang gemar merawat tubuh dengan produk kecantikan mungkin tidak asing lagi dengan Body Shop—sebuah perusahaan kosmetik yang berbasis di Inggris. Produk-produknya sudah dipasarkan secara luas di Indonesia melalui PT Monica Hijau Lestari selaku pemegang lisensi resminya. Kemudian, milk bath merupakan salah satu produk Body Shop yang dibuat untuk kebutuhan mandi yang sifatnya larut dalam air dan berfungsi untuk memutihkan kulit.

Pelanggaran Hak Merek body shop

Lantas, pelanggaran hak penggunaan merek apa yang terjadi? Kasus tersebut muncul pada pertengahan 1996. PT Monica Hijau Lestari menerima keluhan yang tidak sedikit dari konsumen tentang produk susu untuk mandi atau milk bath yang tak sama dengan produk yang sebelumnya mereka pakai. Setelah ditelisik, ternyata milk bath yang dikeluhkan konsumen tadi memang berbeda dari yang dikeluarkan Body Shop International. Mereka yakin kalau milk bath ini palsu karena ada ciri-ciri mencurigakan, seperti pemakaian kemasan produk dari plastik yang dibungkus kain; kemasannya mempunyai bentuk yang serupa dengan kemasan orisinal, hanya saja lebih kecil. Milk bath palsu tersebut tidak larut saat dimasukkan ke dalam air, tidak sanggup memutihkan kulit, dan dipasarkan memakai sistem direct selling. Ciri-ciri yang mencurigakan tersebut jadi bukti kuat untuk melayangkan sebuah gugatan, sayangnya proses menemukan pihak yang memalsukan milk bath tersebut bukanlah hal mudah.

Belum lagi sistem pemasaran direct selling yang tidak tetap semakin mempersulit pelacakan terhadap oknum penjual. Akan tetapi, beberapa bulan kemudian, milk bath palsu tersebut diketahui tidak beredar lagi di pasaran. Sebagian orang berasumsi kalau Body Shop berhasil menuntaskan masalah itu.

Industri kuliner tidak terlepas dari kasus pelanggaran merek—malah sangat rentang mengingat makanan termasuk produk yang paling mudah diproduksi sekaligus ditiru. Contoh pelanggaran hak merek di dunia kuliner sempat menimpa brand penganan Dunkin’ Donuts dengan Donats’ Donuts yang berlokasi di Yogyakarta. Seperti yang kita tahu, Dunkin’ Donuts Inc., USA sudah terdaftar di banyak negara di dunia, termasuk di antaranya Indonesia. Merek ini temasuk ke dalam jenis jasa restoran (kelas 42) serta produk makanan (kelas 30).

Di sisi lain, Donats’ Donuts telah melakukan bentuk pelanggaran hak merek terhadap Dunkin’ Donuts, antara lain adanya kesamaan pokok pada bentuk tulisan, huruf, dan kombinasi waranya (merah muda dan jingga/oranye). Kesamaan ini dapat Anda lihat jelas saat menyandingkan logo Dunkin’ Donuts dengan Donats’ Donuts dan sekilas mungkin tidak terlihat perbedaan mencolok. Tidak hanya itu, Donats’ Donuts juga mengaplikasikan bentuk pelanggarannya pada kotak kemasan untuk makanan dan minuman yang mereka produksi.

Pelanggaran Hak Merek dunkin donuts

Pemakaian merek Donats’ Donuts—baik dalam tulisan dan kombinasi warna—yang hampir menyerupai Dunkin’ Donuts jelas akan menimbulkan kekacauan seputar asal-usul produk dan membawa dampak buruk terhadap reputasi Dunkin’ Donuts Inc. selaku pemiik merek yang asli dan sah. Sengketa di antara dua produsen penganan manis ini pun diselesaikan di luar pengadilan. Lantas setelah memperoleh surat peringatan dari pihak kuasa hukum Dunkin’ Donuts Inc., pemilik Donats’ Donut pun melakukan sejumlah perubahan dari segi tulisan, huruf, hingga perpaduan warna dalam kemasan makanan dan minuman.

Nama restorannya pada akhirnya diganti untuk menghindari kebingungan pada masyarakat. Sehingga nanti konsumen pun dapat membedakan makanan yang diproduksi oleh kedua perusahaan kuliner tersebut.

    Chat WA